Kamis, 24 Oktober 2024

Rangkuman Koneksi Antar Materi - Modul 3.1 (Wiwit Rahayu)

 

Rangkuman 3.1.j. Koneksi Antar Materi - Modul 3.1

Tujuan Pembelajaran Khusus : 

1.   CGP membuat kesimpulan (sintesis) dari keseluruhan materi yang didapat, dengan beraneka cara dan media.

2.     CGP dapat melakukan refleksi bersama fasilitator untuk mengambil makna dari pengalaman belajar dan mengadakan metakognisi terhadap proses pengambilan keputusan yang telah mereka lalui dan menggunakan pemahaman barunya untuk memperbaiki proses pengambilan keputusan yang dilakukannya.

Kegiatan Pemantik:

Bacalah kutipan ini dan tafsirkan apa maksudnya:


“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”
(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert


  1.       Dari kutipan di atas, apa kaitannya dengan proses pembelajaran yang sedang Anda pelajari saat ini
  2.       Bagaimana nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan kita?
  3.        Bgaimana Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid, dalam pengambilan keputusan Anda?

 

Pembahasan

  1. Berdasarkan kutipan tersebut, tersirat makna bahwa mengajarkan anak tentang kemampuan akademik penting, namun membentuk karakter dan moral anak jauh lebih penting. Pada modul ini, hal yang paling mendasar adalah mengetahui mengenai etika karena bersumber dari nilai-nilai kebajikan universal.
  2. Terdapat tiga prinsip yang kita anut dalam pengambilan keputusan yaitu berpikir berbasis hasil akhir, berpikir berbasis peraturan, dan berpikir berbasis rasa peduli. Ketiga prinsip tersebut nantinya dalam proses pengambilan keputusan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi serta tetap bersumber pada nilai kebajikan universal yang berpihak pada murid dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga akan berdampak positif bagi lingkungan kita berada.
  3. Dalam proses pembelajaran saya harus peka terhadap kemungkinan yang terjadi entah itu datangnya dari internal maupun eksternal seperti permasalahan murid yang harus saya hadapi secara responsif. Pengambilan keputusan pun haruslah sesuai dengan dasar pengambilan keputusan yaitu berpihak pada murid, bersumber pada nilai kebajikan universal dan bertanggung jawab. Berangkat dari sanalah murid akan turut belajar bagaimana proses pengambilan keputusan yang adil bijak dan bertanggung jawab.

 

Menurut Anda, apakah maksud dari kutipan ini jika dihubungkan dengan proses pembelajaran yang telah Anda alami di modul ini? Jelaskan pendapat Anda.

Education is the art of making man ethical.
Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.
~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~

 

Sebagai pendidik kita mengajarkan dan memberikan pemahaman kepada murid agar dapat berperilaku sesuai dengan etika yang berlaku di mana mereka tinggal. Sehingga penting membentuk karakter pada diri mereka agar nantinya mereka siap ketika membuat keputusan yang etis berdasar pada nilai-nilai kebajikan universal.

 

Panduan Pertanyaan untuk membuat Rangkuman Kesimpulan Pembelajaran (Koneksi Antarmateri):

  • Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Filosofi KHD dengan Pratap Triloka yaitu ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani, memiliki makna yang mendalam yang dapat kita jadikan dasar dalam setiap pengambilan keputusan yaitu keputusan yang berpihak pada murid. Proses pengambilan keputusan yang dilakukan seorang pemimpin harus dapat memberikan contoh yang baik bagi yang dipimpinnya (Ing Ngarso Sung Tulodo). Hasil keputusan harus mampu membangkitkan semangat untuk terus melakukan inovasi dalam melakukan pengambilan keputusan yang berpihak pada murid (Ing Madyo Mangun Karso) dan seorang pemimpin harus terus memberikan motivasi saat melakukan proses pengambilan keputusan atau (Tut Wuri Handayani) agar diperoleh hasil sesuai dengan yang diharapkan.

  • Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Nilai-nilai yang harus tertanam dalam diri sebagai guru penggerak diantaranya berpihak pada murid, mandiri kolaboratif, reflektif dan inovatif, dimana nilai-nilai tersebut harus menjadi dasar dalam pengambilan keputusan. Nilai-nilai tersebut akan berpengaruh kepada prinsip pengambilan keputusan yang akan kita ambil, tentunya disesuaikan dengan situasi yang terjadi dan pengaruhnya terhadap lingkungan.

  • Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan coaching yang diberikan pendamping atau fasilitator dapat menjadi bekal bagi saya. Pada proses coaching kita membantu coachee dalam menentukan atau mengambil Keputusan. Pada modul ini kita dapat merefleksikan apakah keputusan yang kita ambil dapat dipertanggungjawabkan ataukah justru akan menimbulkan masalah lain di kemudian hari. Pada modul ini dan dalam pembelajaran pengambilan keputusan kita diberikan panduan tentang 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang bisa kita terapkan dalam proses pengambilan keputusan yang tepat dan bijaksana.

  • Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Ketika guru sudah dapat mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya maka guru dapat memahami perasaan, mengelola emosinya memiliki kesadaran sosial sehingga mampu memahami sudut pandang dan dapat berempati kepada orang lain. Selain itu dengan memiliki keterampilan berelasi maka nantinya akan dapat berkomunikasi dengan lebih efektif sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan begitu, ketika terjadi suatu masalah terkait dilema etika kita dapat menyelesaikan dengan tenang, tidak terlalu buru-buru dan sesuai dengan langkah-langkah yang sistematis dalam pengambilan keputusannya.

  • Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Terkait studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika, tentunya harus kita analisis terlebih dahulu menggunakan paradigma prinsip dan langkah pengambilan dan pengujian keputusan dengan didasari dengan nilai-nilai kebajikan universal.

  • Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Untuk melakukan pengambilan keputusan yang tepat, tentunya harus berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan universal berpihak pada murid dan dapat dipertanggungjawabkan. Ketika keputusan yang diambil sudah tepat, maka akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman.

  • Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Dalam pengambilan keputusan terkadang ada perasaan takut mengecewakan pihak lain yang mungkin tidak sejalan dengan pemikiran kita, namun dengan berpedoman pada yang sudah dipelajari pada modul ini, pengambilan keputusan yang dapat meminimalisir perasaan tidak nyaman tersebut dan keputusan yang diambil dapat diterima semua pihak.

  • Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Pengambilan keputusan yang kita ambil haruslah berpihak pada murid dalam suatu pembelajaran yang kita lakukan harus pula demikian, salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan pembelajaran berdiferensiasi. Dimana pembelajaran berdiferensiasi ini dapat memenuhi kebutuhan belajar murid yang disesuaikan dengan kesiapan belajar, minat dan profil belajar. Sehingga akan tercipta merdeka belajar sesuai potensi murid yang berbeda-beda.

  • Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan harus mempertimbangkan berbagai macam kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Oleh karena itu dalam pengambilan keputusan perlu dilakukan pengujian sesuai dengan langkah-langkah yang seharusnya dan disesuaikan dengan paradigma dan prinsip-prinsip pengambilan Keputusan.

  • Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Pengambilan keputusan harus berlandaskan pada filosofi KHD, berpegang teguh pada nilai guru penggerak salah satunya berpihak pada murid dengan berlandaskan nilai-nilai kebajikan yang universal. Keputusan yang diambil harus mempertimbangkan berbagai hal termasuk masa depan murid. Pengambilan keputusan akan berpengaruh pada pengajaran yang memerdekakan murid yang disesuaikan dengan potensinya masing-masing. Seorang pemimpin pembelajaran harus memiliki kompetensi sosial dan emosional agar dapat mengambil keputusan dengan penuh kesadaran diri, mampu mengelola emosi dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Sedangkan pada saat proses pengujian keputusan diperlukan teknik coaching agar dapat menggali informasi sebanyak-banyaknya untuk mengambil keputusan yang tepat dan bijaksana.

  • Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Hal-hal yang menurut saya di luar dugaan adalah di mana ternyata dalam pengambilan keputusan bukan semata-mata hanya didasarkan pada pemikiran dan pertimbangan saja. Namun, di luar itu perlu adanya koneksi dari modul-modul yang telah dipelajari sebelumnya, selain itu juga harus mempertimbangkan paradigma prinsip dan langkah-langkah pengambilan dan pengujian keputusan, agar keputusan yang diambil akan tepat dan dapat dipertanggungjawabkan.

  • Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Pernah, waktu itu keputusan yang saya ambil tanpa mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa mendatang, hal ini karena belum mengetahui tentang adanya tahapan dalam pengujian dan pengambilan keputusan. Setelah mempelajari modul ini, saya menjadi paham bahwa sebelum mengambil sebuah keputusan perlu adanya penentuan paradigma prinsip dan menggunakan langkah-langkah yang sistematis dalam pengambilan dan pengujian keputusan, selain itu harus berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal dan berpihak pada murid sehingga keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan dan memberi kebermanfaatan pada banyak orang.

  • Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Selama mempelajari modul ini sangat memberikan dampak yang positif terkait cara pengambilan sebuah Keputusan. Di mana dalam proses pengambilan keputusan yang akan saya lakukan di kemudian hari akan lebih sistematis karena telah menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, serta menentukan paradigma dan prinsip-prinsip dalam pengambilan keputusan.

  • Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Mempelajari modul ini sangatlah penting sekali baik sebagai individu maupun pemimpin. Dengan mempelajari modul ini dapat menambah wawasan dan sudut pandang serta kecakapan dalam proses pengambilan keputusan yang berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan universal berpihak pada murid dan dapat dipertanggungjawabkan.

 

 

Kamis, 06 Juni 2013

Refleksi "Elegi Menggapai "Kant's Transcendental Logic in the Critique of Pure Reason"




Dalam elegy di atas, dijelaskan  bahwa ada empat Sub Topik: Logika secara umum, Transendental Logic, Divisi Logic Umum ke Analitik dan Dialektika, Logika dan Divisi Transendental ke Analytic Transendental dan Dialektika.
Logika Secara Umum terdiri dari dua sumber dasar pengetahuan: sensibilitas yaitu kemampuan untuk menerima representasi yang terdiri dari Science benda Estetika dan Bagaimana diberikan kepada kita;
dan pemahaman yaitu kekuatan mengetahui obyek melalui representasi yang terdiri dari Ilmu Logika dan Bagaimana sebuah benda diperkirakan.
Dalam artikel diatas, Kant mengklaim bahwa hanya melalui serikat mereka dapat pengetahuan timbul. Menurut Kant, ada dua jenis logika: logika secara umum berisi aturan mutlak diperlukan pemikiran yaitu. logika elemen, dan logika kerja khusus pemahaman mengandung aturan berpikir yang benar tentang jenis benda tertentu yaitu. logika ilmu tertentu. Disini, yang dapat saya simpulkan yaitu bahwa logiaka anak sangatlah penting bagi mereka dalam mencari pengetahuan matematika.
Terima kasih

Refleksi "Elegi Menggapai "Kant's Discovery of all Pure Concepts of the Understanding"





Dalam Elegi Menggapai "Kant's Discovery of all Pure Concepts of the Understanding", Kant  berpendapat bahwa tidak setiap jenis pengetahuan a priori harus disebut transendental, hanya itu yang kita tahu bahwa representasi tertentu dapat digunakan atau yang mungkin apriori, dan ruang adalah pengetahuan bahwa representasi tidak empiris. Kant juga berpendapat bahwa perbedaan antara transendental dan empiris hanya milik kritik pengetahuan, bukan untuk hubungan pengetahuan itu untuk maksud dan tujuannya. Selain itu, Kant  juga berpendapat bahwa obyek persepsi langsung sebagian disebabkan karena benda eksternal dan sebagian karena aparatus persepsi kita sendiri. Untuk membuktikan bahwa ruang dan waktu merupakan bentuk a priori, Kant memiliki dua kelompok argumen; yang pertama metafisis, yang kedua epistemologis, atau sebagaimana ia menyebutnya, transendental.
Terima kasih

Refleksi "Elegi Menggapai "Ontological Foundation of Mathematics"




Elegi di atas berisi tentang perdebatan pendapat tentang cara pandang dalam matematika. Di luar dari perdebatan tersebut. Matematika merupakan pengetahuan yang diperoleh dari  akal pikiran dan  berdasarkan pengalaman. Banyak Ahli yang berpendapat mengenai hal tersebut. Seperti yang dikemukaakan oleh Rene Descartes dan Leibniz , mereka berpendapat bahwa konsep matematika bersifat melekat “innate” pada pikiran kita; sementara John Locke dan David Hume berpendapat bahwa pengetahuan matematika diturunkan berdasarkan pengalaman inderawi. Maka dari itu, dalam belajar untuk mendapat pengetahuan matematika sangat diperlukan  kerja dari pikiran kita dan kita harus perbanyak pengalaman  kita.
Terima kasih

Refleksi "Elegi Menggapai "Intuitionism as the Epistemological Foundation of Mathematics"





Setelah membaca Elegi di atas,  saya dapat berpendapat bahwa intuisi merupakan hal yang sangat penting dimiliki oleh seorang siswa.  Seperti gagasan Penting yang diuraikan oleh Soehakso RMJT (1989) bahwa untuk Brouwer, sumber satu-satunya dari pengetahuan matematika adalah intuisi primordial "dua-kesatuan" di mana pikiran memungkinkan untuk dilihat mental yang berantakan momen kehidupan ke dua bagian yang berbeda, menganggap mereka sebagai bersatu kembali, sedangkan sisanya dipisahkan oleh waktu.
Dari uraian di atas telah dijelaskan bahawa matematika adalah ilmu yang bersifat sintetik a priori. Pengetahuan matematika di satu sisi bersifat “subserve” yang artinya hasil dari sintesis pengalaman inderawi; di sisi yang lain matematika bersifat “superserve” yang artinya bahawa  pengetahuan a priori sebagai hasil dari konsep matematika yang bersifat immanen dikarenakan didalam pikiran kita sudah terdapat kategori-kategori yang memungkinkan kita dapat memahami matematika tersebut. Menurut intuisionisme, matematika pada dasarnya adalah suatu kegiatan konstruksi. Maka dari itu, Untuk mempelajari matematika, tidak perlu hanya dengan menghafalkan rumus-rumus saja. Namun harus dipahami dan diteleti mengapa muncul rumus seperti itu. Oleh karena itu, intuisi anak haruslah dipacu untuk dapat berkembang.
Terima kasih