Membudayakan
Pembelajaran Inovatif
Pembelajaran
yang inovatif merupakan sebuah hal yang sangat penting diterapkan dalam dunia
pendidikan, termasuk di Indonesia. Matematika merupakan salah satu mata
pelajaran yang sangat membutuhkan keinovatifan guru dalam menyampaikan
pelajaran agar tidak terjadi kesalahpahaman. Dalam sebuah sekolah siswa,
pendidik, dan belajar merupakan
unsur-unsur yang harus diperhatikan. Karena sebagai seorang siswa, mereka harus
mampu menyaring setiap apa yang mereka dengar atau peroleh. Mereka harus
memiliki saringan pola pikir agar apa yang mereka peroleh dapat diserap mana
yang baik dan mana yang buruk. Sedangkan bagi seorang pendidik atau pengajar,
hal yang harus mereka kuasai salah satunya adalah menggunakan metode
pembelajaran yang inovatif. Guru harus mengerti tentang bagaimana pembelajaran
matematika yang inovatif itu. Setelah mengerti, guru juga harus menerapkannya
dalam proses pembelajaran dan berkelanjutan hingga para guru harus mampu
membudayakan pembelajaran inovatif tersebut.
Metode
pembelajaran yang inovatif telah diterapkan di beberapa negara lain, seperti
Australia dan Jepang. Pembelajaran di Australia dan Jepang menerapkan teori hermeneuticsof life, yang berarti
menerjemahkan dan diterjemahkan. Jadi siswa memperoleh sebuah ilmu, selain
untuk dirinya sendiri tapi diharapkan juga bermanfaat bagi orang lain. Di
Jepang dan Australia, siswa dituntut untuk mandiri dan inisiatif dalam
bertindak. Hal ini yang menyebabkan pendidikan di negara tersebut dapat
meningkat pesat. Siswa yang mandiri akan cenderung aktif dan siswa yang aktif
otomatis akan memperoleh ilmu yang lebih banyak dari yang pasif. Siswa yang
mandiri cenderung sudah dewasa, dewasa di sini bukan masalah usia tetapi
masalah kematangan pola pikir. Orang yang dewasa pastilah selangkah lebih maju
dari yang masih kekanak-kanankan. Karena
matematika pada anak yang belum siap akan menimbulkan bencana, sedangkan
matematika pada anak yang sudah siap akan menimbulkan kebahagiaan. Sikap
inisiatif merupakan sebuah sikap yang mendorong kreatifitas dari siswa. Siswa
yang memiliki sikap inisiatif akan lebih banyak menemukan hal-hal yang baru dan
kreatif.
Menurut Immanuel Kant, kita harus mengimbangi antara
pikiran atau logika (analitik a priori)
dengan pengalaman (sintetik a
perosteriori). Karena sehebat-hebatnya pengalaman jika didasari dengan
pemikiran. Sesungguhnya pengetahuan itu harus memenuhi kombinasi dari pikiran
dan pngalaman. Jadi mahasiswa harus sintetik
a priori, yaitu menggunakan pikiran dan juga menggunakan pengalaman. Manusia
terlahir mempunyai kemampuan abstraksi sehingga mereka mempunyai arah dalam
setiap pembicaraan, begitu pula dengan seorang guru. Seorang guru harus mampu
membuat simulasi, sehingga dapat menjelaskan secara tampak pada siswa dari yang
rendah sampai yang tinggi. Sesuai dengan hakikat matematika realistik yaitu
matmatika konkrit, metode konkrit, metode formal, dan matematika formal.
Di
Australia dan Jepang, pembelajaran matematika begitu mengagumkan. Dalam proses
belajar mengajar, siswa dan guru tidak jarang untuk saling berkonsultasi. Siswa
sudah terbiasa dengan kegiatan praktik dan observasi. Di sana pendidikan
karakter juga merupakan hal yang tidak boleh terlupakan. Pendidikan karakter
diberikan secara bersama-sama dalam proses belajar mengajar, seperti yang
terlihat saat berdiskusi. Siswa harus belajar untuk memberikan hak orang lain
untuk berbicara dan menghargainya. Pembelajran yang inovatif di Australia dan
Jepang juga ditunjukan oleh partisipasi dari orang tua. Orang tua boleh datang
ke sekolah untuk melihat proses belajar mengajar. Orang tua juga dapat
bertanya, berkomentar, bahkan menyampaikan pendapatnya mengenai proses atau
bahkan hasil dari proses pembelajaran. Inovasi lain yang dilakukan yaitu dengan
siswa membuat hipotesis dan refleksi.
Yang
masih menjadi masalah dalam pembelajaran matematika (problem of math teaching) yaitu metode pembelajarannya,
tradisional atau inovatif. Meode tradisional merupakan metode yang masih
diterapkan oleh Indonesia, di mana di dalam proses belajar mengajar hanya terjadi
proses pemberian materi from teacher to
students. Hal tersebut yang membedakan dengan metode inovatif, dalam metode
inovatif terjadi constructive teaching. Seperti yang sudah saya jelaskan di
atas mengenai metode inovatif. Kapanpun, di manapun, tentang apapun, dalam
kondisi sadar atau tidak sadar selalu berkaitan dengan dua hal, yaitu percaya (accountability) dan terus (sustainability). Siswa yang berkualitas
adalah siswa yang akuntabilitas begitu pula dengan guru, guru yang bisa
dipercaya akan lebih berkualitas dari pada yang tidak. Kualitas itu juga harus
ada dan bertahan terus sampai kapanpun sehingga dapat bermanfaat bagi orang
lain dan secara terus menerus, itulah yang disebut dengan sustainability.
Kesimpulan
yang dapat saya ambil dari pertemuan kali ini, setelah melihat berbagai foto
tersebut bahwa pembelajaran yang inovatif harus dimengerti, diterapkan dan
dibudidayakan, termasuk di Indonesia. Bukan berarti ingin meniru negara lain,
tapi berusaha belajar hal yang baik dari negara lain. Di samping tentang
pembelajaran yang inovatif, seorang guru dan siswa haruslah memiliki sikap accountability dan sustainability.