Rabu, 20 Maret 2013

Refleksi "Mathematics and Language 12"


Seni  dan bahasa adalah dua hal yang tidak bisa diciptakan. Sebuah seni yang indah, namun diungkapkan dengan bahasa yang tidak baik maka akan menjadikan seni itu tidak menarik pula. Begitu pula dengan bahasa, bahasa yang baik dan benar namun dikemas dengan tidak baik maka akan menghasilkan bahasa yang tidak memiliki seni atau dengan kata lain membosankan. Dan itu juga yang terjadi pada matematika, matematika harus memiliki unsur seni dan bahasa yang baik. Hal itu agar tidak terjadi kerancuan atau kebingungan dalam penggunaannya. Seperti halnya dengan tanda (x ) x dalam matematika berarti kali dan dalam bahasa indonesia berarti huruf eks. Untuk menggantikan tanda kali dalam matematika maka dapat diganti dengan tanda . (dibaca dot) sehingga tidak menimbulkan kerancuan dalam penggunaannya. Karena matematika diberikan pada siswa dari SD- PT maka penggunaanya pun berbeda. Seperti halnya tanda kali (x) dalam pembelajaran matematika di SD masih tetap digunakan, hal itu karena disesuaikan dengan tinggkat pola pikir mereka. Sedangkan di SMP dan SMA sudah menggunakan tanda . (dot). Bahasa dan seni yang digunakan dalam pembelajaran matematika hendaknya disesuaikan dengan tingkat siswanya. Seperti itulah pendapat yang dapat saya sampaikan dari artikel di atas.
Terima Kasih

rEFLEKSI "Mathematics and Language 5 "



Saya sependapat dengan pendapat diatas, antara matematika murni dan pendidikan matematika  memiliki  perbedaan. Matematika murni mempelajari matematika secara detail, sehingga apa yang dipelajari lebih banyak. Sedangkan pendidikan matematia mempelajari matematika beserta ilmu kependidikannya. Karena nantinya mereka yang berasal dari pendidikan matematika akan menjadi pendidik, sehingga mereka harus menguasai tentan metode pembelajaran matematika. Namun antara keduanya tetap memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu ntara keduaanya harus saling berhubunan sehingga menghasilkan sebuah ilmu yang dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran yang digunakan pendidik.
Terima Kasih..

Refleksi "Tolak Perubahan Kurikulum Pendidikan "


 Adanya perubahan kurikulum 2006 menjadi kurikulum 2013 memang menimbulkan pro dan kontra yang terjadi di berbagai kalangan.  Setiap dari mereka memiliki alasan sendiri-sendiri mengapa mereka menerima atau pun menolaknya. Tapi menurut saya, adanya perubahan itu baik. Mungkin saja, masih ada beberapa yang kurang  tepat dari penggantian kurikulum tersbut. Seperti halnya  nilai karakter yang dikehendaki dalam kurikulum 2013 belum disebutkan seecara jelas, sehingga memunculkan presepsi jika bangsa kita merupakan bangsa yang termasuk Bangsa yang masih mencari jati diriny. Bukankah itu sangat memprihatinkan?
Intinya, saya setuju dengan pendapat Bapak Marsigit  dalam artikel Masukkan untuk Perbaikan Draft Kurikulum 2013 pada http://powermathematics.blogspot.com/2012/
Terima Kasih

Refleksi "Masukkan untuk Perbaikan Draft Kurikulum 2013_ Oleh Marsigit"


 
Perubahan merupakan sebuah hal yang sangat penting untuk diterapkan dalam beberapa hal, termasuk pada kurikulum baru 2013. Namun, tidak semua perubahan dikatakan baik. Sebuah perubahan dikatakan baik jika  memberikan manfaat pada aspek yang dirubah. Saya setuju dengan adanya perubahan dari kurikulum 2006 menjadi kurikulum 2013. Namun, perubahan itu juga harus jelas dan terarah. Dengan disebutnya sebagai kurikulum 2013, seakan-akan kurikulum itu diganti dari 2013. Padahal perubahan kurikulum  bertujuan untuk meningkatkan pengimplementasian dari kurikulum 2006. Mungkin akan lebih baik jika disebut sebagai Revisi Kurikulum 2006, sesuai pendapat Bapak. Perubahan tersebut diharapkan mampu memperbaiki sistem pendidikan Indonesia.  Semoga  yang tadinya menggunakan metode tradisional menjadi metode pembelajaran yang inovatif. Sehingga nantinya siswa mampu memiliki dua komponen penting yaitu accountability dan sustainability. Dimana kedua komponen tersebut sangatlah penting bagi siswa. Semoga pendidikan di Indonesia akan menjadi lebih baik dan kelak akan menjadi yang terbaik.
GANBATTE!!!!!!!!!!!!
Terima Kasih

REFLEKSI pertemuan tanggal 14 Maret 2013


Membudayakan Pembelajaran Inovatif

Pembelajaran yang inovatif merupakan sebuah hal yang sangat penting diterapkan dalam dunia pendidikan, termasuk di Indonesia. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat membutuhkan keinovatifan guru dalam menyampaikan pelajaran agar tidak terjadi kesalahpahaman. Dalam sebuah sekolah siswa, pendidik,  dan belajar merupakan unsur-unsur yang harus diperhatikan. Karena sebagai seorang siswa, mereka harus mampu menyaring setiap apa yang mereka dengar atau peroleh. Mereka harus memiliki saringan pola pikir agar apa yang mereka peroleh dapat diserap mana yang baik dan mana yang buruk. Sedangkan bagi seorang pendidik atau pengajar, hal yang harus mereka kuasai salah satunya adalah menggunakan metode pembelajaran yang inovatif. Guru harus mengerti tentang bagaimana pembelajaran matematika yang inovatif itu. Setelah mengerti, guru juga harus menerapkannya dalam proses pembelajaran dan berkelanjutan hingga para guru harus mampu membudayakan pembelajaran inovatif tersebut.
Metode pembelajaran yang inovatif telah diterapkan di beberapa negara lain, seperti Australia dan Jepang. Pembelajaran di Australia dan Jepang menerapkan teori hermeneuticsof life, yang berarti menerjemahkan dan diterjemahkan. Jadi siswa memperoleh sebuah ilmu, selain untuk dirinya sendiri tapi diharapkan juga bermanfaat bagi orang lain. Di Jepang dan Australia, siswa dituntut untuk mandiri dan inisiatif dalam bertindak. Hal ini yang menyebabkan pendidikan di negara tersebut dapat meningkat pesat. Siswa yang mandiri akan cenderung aktif dan siswa yang aktif otomatis akan memperoleh ilmu yang lebih banyak dari yang pasif. Siswa yang mandiri cenderung sudah dewasa, dewasa di sini bukan masalah usia tetapi masalah kematangan pola pikir. Orang yang dewasa pastilah selangkah lebih maju dari  yang masih kekanak-kanankan. Karena matematika pada anak yang belum siap akan menimbulkan bencana, sedangkan matematika pada anak yang sudah siap akan menimbulkan kebahagiaan. Sikap inisiatif merupakan sebuah sikap yang mendorong kreatifitas dari siswa. Siswa yang memiliki sikap inisiatif akan lebih banyak menemukan hal-hal yang baru dan kreatif.
Menurut  Immanuel Kant, kita harus mengimbangi antara pikiran atau logika (analitik a priori) dengan pengalaman (sintetik a perosteriori). Karena sehebat-hebatnya pengalaman jika didasari dengan pemikiran. Sesungguhnya pengetahuan itu harus memenuhi kombinasi dari pikiran dan pngalaman. Jadi mahasiswa harus sintetik a priori, yaitu menggunakan pikiran dan juga menggunakan pengalaman. Manusia terlahir mempunyai kemampuan abstraksi sehingga mereka mempunyai arah dalam setiap pembicaraan, begitu pula dengan seorang guru. Seorang guru harus mampu membuat simulasi, sehingga dapat menjelaskan secara tampak pada siswa dari yang rendah sampai yang tinggi. Sesuai dengan hakikat matematika realistik yaitu matmatika konkrit, metode konkrit, metode formal, dan matematika formal.
Di Australia dan Jepang, pembelajaran matematika begitu mengagumkan. Dalam proses belajar mengajar, siswa dan guru tidak jarang untuk saling berkonsultasi. Siswa sudah terbiasa dengan kegiatan praktik dan observasi. Di sana pendidikan karakter juga merupakan hal yang tidak boleh terlupakan. Pendidikan karakter diberikan secara bersama-sama dalam proses belajar mengajar, seperti yang terlihat saat berdiskusi. Siswa harus belajar untuk memberikan hak orang lain untuk berbicara dan menghargainya. Pembelajran yang inovatif di Australia dan Jepang juga ditunjukan oleh partisipasi dari orang tua. Orang tua boleh datang ke sekolah untuk melihat proses belajar mengajar. Orang tua juga dapat bertanya, berkomentar, bahkan menyampaikan pendapatnya mengenai proses atau bahkan hasil dari proses pembelajaran. Inovasi lain yang dilakukan yaitu dengan siswa membuat hipotesis dan refleksi.
Yang masih menjadi masalah dalam pembelajaran matematika (problem of math teaching) yaitu metode pembelajarannya, tradisional atau inovatif. Meode tradisional merupakan metode yang masih diterapkan oleh Indonesia, di mana di dalam proses belajar mengajar hanya terjadi proses pemberian materi from teacher to students. Hal tersebut yang membedakan dengan metode inovatif, dalam metode inovatif terjadi constructive teaching. Seperti yang sudah saya jelaskan di atas mengenai metode inovatif. Kapanpun, di manapun, tentang apapun, dalam kondisi sadar atau tidak sadar selalu berkaitan dengan dua hal, yaitu percaya (accountability) dan terus (sustainability). Siswa yang berkualitas adalah siswa yang akuntabilitas begitu pula dengan guru, guru yang bisa dipercaya akan lebih berkualitas dari pada yang tidak. Kualitas itu juga harus ada dan bertahan terus sampai kapanpun sehingga dapat bermanfaat bagi orang lain dan secara terus menerus, itulah yang disebut dengan sustainability.
Kesimpulan yang dapat saya ambil dari pertemuan kali ini, setelah melihat berbagai foto tersebut bahwa pembelajaran yang inovatif harus dimengerti, diterapkan dan dibudidayakan, termasuk di Indonesia. Bukan berarti ingin meniru negara lain, tapi berusaha belajar hal yang baik dari negara lain. Di samping tentang pembelajaran yang inovatif, seorang guru dan siswa haruslah memiliki sikap accountability dan sustainability.