Rabu, 13 Maret 2013

Refleksi "Pembelajaran Matematika SD Kelas II di Jepang"


Pembelajaran Matematika SD Kelas II di Jepang

Rasa senang dan takjub dalam hati saya selama melihat video tentang pembelajaran matematika  SD kelas 2 di Jepang. Pembelajaran yang sangat maju dan inovatif terlihat dari video tersebut. Dari video tersebut saya bisa berpendapat bahwa guru memperlakukan atau memposisikan siswa sebagai subjek, terbukti dengan metode yang diterapkan oleh guru. Dalam pembelajaran di Jepang yang sesuai dengan video tersebut, guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok untuk melakukan diskusi. Di situ guru memberikan alat atau bahan yang harus dapat siswa pecahkan. Dalam masing-masing kelompok tersebut siswa  berlatih untuk bertukar pikiran dengan teman yang lain, di samping itu dengan metode diskusi siswa dapat belajar untuk berani mencoba dan berpendapat.
Dalam pembelajaran matematika di Jepang yang sesuai dengan video tersebut menjelaskan bahwa dalam satu kelas dibutuhkan dua guru. Di mana kedua guru itu saling bekerja sama dan membagi tugas. Salah satu guru berada di depan untuk mengarahkan tentang materi yang akan didiskusikan sedangkan guru yang satunya berada di belakang  untuk mengawasi siswa sekaligus untuk membantu siswa jika siswa mengalami kesulitan. Di  sini guru turun secara langsung dalam membimbng siswa yang mengalami kesulitan. Dan tidak jarang bagi guru untuk memberikan motivasi pada siswa agar siswa tetap bersemangat dalam belajar. Dalam video tersebut terlihat bahwa guru sering mngajak siswa untuk bertepuk tangan dan sebagainya. Pembelajaran yang sesui dengan video tersebut  merupakan sebuah contoh metode pembelajran yang inovatif, karena dengan diskusi siswa mampu menemukan polanya masing-masing dan sudah pasti bahwa hasilnya akan berbeda dengan kelompok yang lain. Dengan pola yang ditemukan oleh setiap kelompok maka mereka akan mampu memecahkan masalah yang tadinya menjadi pertanyaan dalam pikirannya.
Sesuai dengan video tersebut, setelah setiap kelompok berhasil menemukan polanya maka setiap kelompok menunjuk satu wakilnya untuk maju kedepan kelas dengan maksud untuk menjelaskan bagaimana pola yang di dapatkan. Dengan metode ini, siswa dapat belajar meningkatkan keberanian dan percaya diri dari masing-masing siswa. Jika siswa melakukan sedikit kesalahan maka guru tidak segan-segan membetulkan, tapi dengan tidak menyalahkan hasil dari pemikiran siswa. Dengan pembelajaran seperti ini maka siswa akan terbiasa untuk  memecahkan setiap masalah yang ada dengan cara yang benar.
Kesimpulan yang dapat saya ambil dari video tersebut yaitu bahwa pembelajaran matematika SD kelas 2 di Jepang menerapkan Hakikat Matematika Sekolah. Pertama, siswa mampu menemukan pola sesuai dengan pemikiran mereka masing-masing. Kemudian dengan pola yang mereka dapatkan, mereka mampu memecahkan masalah yang ada. Investigasi juga harus dilakukan oleh siswa untuk mendapatkan pengetahuan yang nantinya mendukung apa yang akan dilakukan oleh siswa. Yang terakhir adalah komunikasi. Komunikasi adalah hal yang sangat penting dilakukan oleh siswa. Baik komunikasi guru kepada siswanya, siswa kepada gurunya, maupun guru dan siswa kepada lingkungan luar. Dengan komunikasi yang baik maka akan memudahkan kita berinteraksi dengan orang lain. Dan semakin banyak interaksi dengan orang lain maka semakiin banyak pula ilmu yang didapatkan.
Metode pembelajaran yang digunakan di Jepang sangat berbeda dengan metode pembelajaran yang digunakan di Indonesia. Di Jepang menggunakan metode inovatif sedangkan Indonesia masih mnggunakan metode tradisional dalam pembelajarannya. Menurut saya, itu yang menyebabkan lemahnya pendidikan di Indonesia. Karena guru menempatkan siswa sebagai obyak pembelajaran yang berarti guru hanya memberi, memberi, dan memberi ilmu. Sedangkan siswa hanya menerima tanpa mereka belajar untuk menemukn polanya sendiri. Ini yang menjadi PR besar buat para guru dan calon guru di Indonesia untuk mampu meningkatkan pembelajaran matematika di Indonesia. Semoga metode inovatif seperti itu dapat segera diterapkan dalam pembelajaran di Indonesia, terutama matematika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar