Minggu, 05 Mei 2013

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 35: Cendekia yang ber Nurani "




Berhati ikhlas dan berpikir kritis adalah hal yang sangat penting dimiliki oleh setiap orang. Rasa ikhlas dan berpikir  kritis seseorang dapat ditunjukan dengan hati dan pikiran kita. Tetapi bahwa hati dan pikiran itu selalu berada dalam ruang dan waktu. Maka dari itu, secara konkrit bahwa manusia itu tidak dapat menilai dan mengaku dirinya sebagai telah berhati ikhlas dan telah berpikir kritis. Karena hanya Allah SWT lah sebagai penilai yang absolut. Allah lah yang Maha Kuasa, jangankan pikiran manusia, semua perbuatan manusia itu sesungguhnya tidak bisa lepas dari kekuasaan Nya. Maka dari itu kita sebagai makhluk-Nya harus senantiasa berikhtiar untuk dapat berhati ikhlas dan berpikir kritis. Walaupun sesungguhnya  tiadalah sebenar-benar diri manusia itu ikhlas dan berpikir kritis, melainkan diri manusia  hanya selalu berusaha menggapainya. Dan ketahuilah bahwa sebenar-benar ikhlas dan berpikir kritis absolut itu hanyalah milik Nya. Maka tiadalah ada manusia dimuka bumi ini yang sebenar-benar mampu menjunjung langit itu, kecuali atas kehendak Nya.  Maka, mendekatkan dirilah pada Allah SWT agar senantiasa kita dalam lindungan-Nya. Aaminn…
Terima kasih

http://powermathematics.blogspot.com/2011/02/elegi-menggapai-cemani.html?showComment=1367759365354#c4724789746819718127

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 34: Menemukan Ruh "




Ruh adalah salah satu komponen yang membentuk manusia selain jasad dan nafs. Ruh itu ditiupkan pada manusia saat manusia dalam kandungan  yaitu pada usia 4 bulan. Ruh tersebut sangat suci dan senantiasa tunduk pada perintah Allah SWT. Setiap manusia tidak mampu melihat rohnya sendiri. Karena ruh itu sendiri merupakan dimensi  dari jiwa manusia, sehingga apa yang kita lakukan yaitu akan sama dengan ruhnya dan sebaliknya. Oleh karena itu, kita sebagai khalifah di bumi hendaklah selalu tunduk pada Allah SWT. Karena Allahlah yang menciptakan kita sehingga kita bisa merasakan hidup di dunia ini. Marilah kita senantiasa memperbanyak amal ibadah kita sebagai bekal kita di akherat nanti. Aaminn..
Terima kasih
http://powermathematics.blogspot.com/2011/10/elegi-ritual-ikhlas-iv-menemukan-ruh.html?showComment=1367759270773#c1133221335110343766

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 33: Doakulah yang tersisa "





Rasa khawatir berada di antara batas hati dan pikiran. Dan rasa khawatir tersebut akan muncul saat seorang manusia berada dalam keragu-raguan. Untuk tehindar dari  keragu-raguan dalam diri kita, marilah kita gunakan hati kita sebagai komando dalam kita bertindak dan mengambil sebuah keputusan. Kita harus senantiasa mendengarkan kata hati kita, karena sebenar-benar apa yang akan kita lakukan adalah yang sesuai dengan hati kita. Agar apa yang kita lakukan sesuai dengan perintah Allah, kita senantiasa harus menjaga hati kita dan selalu membersihkan hati kita agar tidak kotor. Karena apabila hati kotor, maka pilihan atau jalan yang kita ambil pun akan salah.
Untuk menjaga hati kita agar tetap bersih, kita senantiasa harus selalu mendekatkan diri kepada Allah dan memperbanyak do’a. Karena dengan do’a, kita akan semakin dekat dengan Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam QS.Al baqarah ayat 186 yang artinya “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. Maka dari itu janganlah kita berputus asa jika do’a yang kita panjatkan kepada Allah belum terkabul, kita senantiasa harus bersabar dan terus perbanyak doa.  Dan siapa orang-orang yang tidak mau berdoa atau memohon kepada Allah, maka dialah orang yang sombong. Marilah perbanyak do’a kepada Allah SWT, semoga kita termasuk dalam golongan hamba-Nya yang beruntung. Aamiin…

Terima Kasih
http://powermathematics.blogspot.com/2011/10/elegi-menggapai-hati.html?showComment=1367759162107#c7063590282764811897

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 32: Mengaji Jalaliyyah dan Jamaliyyah Wujud Allah"




Tidak ada yang dapat melihat wujud Allah SWT, hal tersebut sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. Al A'raaf ayat 143 yang artinya “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau." Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku." Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu[565], dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”.
Kita dapat mengenal wajah Allah SWT melalui Alquran, yaitu jalal-Nya, yaitu nama Allah yang menunjukkan kebesaran-Nya, keagungan-Nya, kemahaperkasaan-Nya, ketidakdapat-terbantahan-Nya, dan kekuatan-Nya untuk memaksa manusia, yang sangat berat siksaan-Nya, Al-Mutaqim-Sang Pembalas Dendam. Dari sisi jalaliyyah-Nya, Allah itu bersifat transenden, artinya Dia itu berada di luar bayangan-bayangan kita. Jadi, kita tidak boleh membayangkan wujud Allah karena itu bisa menuju pada sifat musrik. Dan dari sisi lain yaitu jamaliyyah-Nya, yaitu sisi yang menunjukkan keindahan-Nya. Jika jalal berhubungan dengan zat Allah, maka jamal berhubungan dengan sifat-sifat Allah.  Maka kita sebagai hamba-Nya senantiasa harus mengenali sifat-sifat Nya dan kita harus meniru dan meyerupai sifat-sifatnya. Kita sebagai makhluk Allah SWT harus mampu berlaku seimbang antara jalaliyyah-Nya dan jamaliyyah-Nya.
Kita seharusnya banyak-banyak bersyukur kepada Allah, karena kita dipilih untuk menjadi khalifah di bumi dibanding dengan makhluk lain. Oleh karena itu, kita hidup di bumi ini harus dimanfaatkan dengan baik untuk hal-hal yang positif dan bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Sehingga apa yang kita lakukan di bumi dapat dijadikan bekal kita di akhirat nanti. Aamiin…
Terima kasih
http://powermathematics.blogspot.com/2011/10/elegi-bagawat-selatan-mengaji.html?showComment=1367758982626#c4572794799877321251

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 31: Menggapai Kedamaian"




Kedamaian merupakan sebuah keadaan yang sangat diinginkan oleh setiap manusia, namun tingkat kedamaian setiap orang itu berbeda-beda. Ada orang yang merasa damai karena keluarganya atau mungkin orang merasa damai karena hidupnya yang sudah sukses atau bahkan ada alasan lainnya. Jika kita berbicara kedamaian mungkin tidak akan ada habisnya, hal tersebut karena sifat dari kedamaian itu yang sangat relatif.  Salah satu hal yang membawa kedamaian menurut saya adalah ilmu. Oleh karena itu, kita sebagai makhluk Allah senantiasa harus menuntut ilmu. Karena Allah lebih mencintai orang-orang yang berilmu. Menuntut ilmu itu tidak ada batasannya, sesuai dengan pepatah yang mengatakan “carilah ilmu sampai ke negeri China”. Pepatah tersebut menunjukan bahwa kita tidak memiliki batasan baik usia, jarak, atau pun batasan yang lainnya untuk kita mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Maka dari itu, janganlah kita cepat puas atas ilmu yang kita sudah miliki. Dunia ini terus berkembang dan maju, jadi ilmu yang kita miliki pun harus terus maju sejalan dengan dunia ini agar kita tidak mati dalam perkembangan. Orang yang cepat puas akan ilmu yang sudah dimiliki termasuk ke dalam kelompok manusia yang sombong, padahal Allah SWT sangat tidak menyukai sifat sombong tersebut. Maka dari itu marilah kita senantiasa menambah ilmu dengan tidak melupakan ilmu yang sudah kita miliki, dan mari kita manfaatkan ilmu yang sudah kita memiliki untuk hal-hal yang positif. Karena setinggi-tinggi derajat orang yaitu orang yang bermanfaat bagi orang lain. Seraya kita menuntut ilmu, kita senantiasa harus lebih mendekatkan diri kepada Allah. Semoga kita termasuk dalam hamba-hambanya yang taqwa. Aamiin Ya Rabalaalamiin…

Terima kasih
http://powermathematics.blogspot.com/2011/03/elegi-seorang-hamba-menggapai-kedamaian.html?showComment=1367758672057#c7842739299226982663