Minggu, 05 Mei 2013

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 32: Mengaji Jalaliyyah dan Jamaliyyah Wujud Allah"




Tidak ada yang dapat melihat wujud Allah SWT, hal tersebut sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. Al A'raaf ayat 143 yang artinya “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau." Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku." Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu[565], dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”.
Kita dapat mengenal wajah Allah SWT melalui Alquran, yaitu jalal-Nya, yaitu nama Allah yang menunjukkan kebesaran-Nya, keagungan-Nya, kemahaperkasaan-Nya, ketidakdapat-terbantahan-Nya, dan kekuatan-Nya untuk memaksa manusia, yang sangat berat siksaan-Nya, Al-Mutaqim-Sang Pembalas Dendam. Dari sisi jalaliyyah-Nya, Allah itu bersifat transenden, artinya Dia itu berada di luar bayangan-bayangan kita. Jadi, kita tidak boleh membayangkan wujud Allah karena itu bisa menuju pada sifat musrik. Dan dari sisi lain yaitu jamaliyyah-Nya, yaitu sisi yang menunjukkan keindahan-Nya. Jika jalal berhubungan dengan zat Allah, maka jamal berhubungan dengan sifat-sifat Allah.  Maka kita sebagai hamba-Nya senantiasa harus mengenali sifat-sifat Nya dan kita harus meniru dan meyerupai sifat-sifatnya. Kita sebagai makhluk Allah SWT harus mampu berlaku seimbang antara jalaliyyah-Nya dan jamaliyyah-Nya.
Kita seharusnya banyak-banyak bersyukur kepada Allah, karena kita dipilih untuk menjadi khalifah di bumi dibanding dengan makhluk lain. Oleh karena itu, kita hidup di bumi ini harus dimanfaatkan dengan baik untuk hal-hal yang positif dan bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Sehingga apa yang kita lakukan di bumi dapat dijadikan bekal kita di akhirat nanti. Aamiin…
Terima kasih
http://powermathematics.blogspot.com/2011/10/elegi-bagawat-selatan-mengaji.html?showComment=1367758982626#c4572794799877321251

Tidak ada komentar:

Posting Komentar