Refleksi
Pertemuan Pertama Matematika
Matematika
merupakan mata pelajaran yang diberikan kepada siswa dari tingkat SD sampai
dengan SMA. Namun, tidak sedikit dari mereka yang mengatakan bahwa matematika
itu sulit. Anggapan seperti itu sering muncul dan sekarang ini menjadi masalah
dalam dunia pendidikan, khususnya di tingkat Sekolah Dasar. Banyak guru yang
kesulitan dalam mengajarkan mata pelajaran matematika di SD, dan seringkali
baik guru SD maupun mahasiswa mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah pembelajaran matematika di SD. Namun,
sangatlah menyedihkan jika pertanyaan-pertanyaan yang muncul itu berupa hal-hal
yang sifatnya dasar. Seperti “ Bagaimana cara mengemas pelajaran matematika di
SD agar menjadi menarik?” atau mungkin “Bagaimana cara membuat matematika tidak
terkesan menakutkan?”. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu seharusnya sudah mampu
dipecahkn oleh seorang guru pada saat guru tersebut akan memulai sebuah
pembelajaran. Setelah mendengar penjelasan dari Bapak Marsigit, saya mulai
paham bahwa sulitnya penyampaian pembelajaran matematika di SD itu terjadi
karena kesalahan guru dalam menggunakan meode pembelajaran. Metode tradisional
yang selama ini diterapkan ternyata
sudah harus diganti. Karena jika menggunakan metode tradisional hanya
akan menimbulkan interaksi satu arah, yaitu guru kepada siswanya. Padahal
sangat diperlukan jika dalam pembelajaran akan menimbulkan interaksi dua arah. Dengan
menggunakan metode tradisional, seakan-akan guru itu menggurui siswanya dan
menjadikan siswa hanya sebagai obyek dalam pembelajaran. Karena guru hanya
terus memberi dan memberi kepada siswanya, sedangkan siswa hanya diam dan tidak
mengerti apakah dia sudah paham atau belum karena tidak ada kesempatan bagi siswa
untuk bicara. Padahal sangat perlu bagi siswa untuk mampu berpendapat dan
membuat kesimpulan. Semua itu terkesan tidak adil bagi siswa, karena guru
selalu merasa benar dengan apa yang beliau lakukan.
Metode
tradisional seperti itu sudah harus diganti menjadi sebuah metode yang inovatif
sehingga tidak lagi mempasifkan siswa tetapi membuat siswa aktif dan kreatif
dalam mengikuti pembelajaran matmatika. Dengan metode inovatif, siswa mampu
berkembang menjadi siswa yang lebih kompeten. Guru yang inovatif harus mampu menciptakan suasana
belajar yang menyenangkan, suasana belajar yang mengikuti kemajuan teknologi
sehingga siswa tidak ketinggalan zaman. Melakukan praktik dan pengembangan
sumber ajar dalam pembelajaran matematika merupakan langkah yang juga harus
ditempuh oleh seorang guru, karena dengan praktik siswa akan lebih memahami. Tugas
seorang guru hanya sebagai fasilitator bagi sisswa dalam belajar, bukan sebagai
sumber utama belajar siswa. Jadi rasa suka kepada matematika juga harus
tertanam pada pikiran dan diri siswa itu sendiri.
Jadi,
intinya siswa itu membutuhkan sebuah perubahan dari metode yang digunakan oleh
seorang guru dalam pembelajaran yaitu dari metode tradisional (ceramah) menjadi
sebuah metode yang inovatif. Karena seperti yang dikemukakan oleh George Bernard Shaw, “Mustahil akan ada
kemajuan tanpa perubahan, orang yang tak dapat mengubah pikirannya tak akan
bisa mengubah apa-apa”. Oleh karena itu, untuk memperoleh pembelajaran
matematika yang inovatif perlu terjadi perubahan yang mendasar yaitu dari
pemahaman, pengetahan, maupun dari segi sikap dan perilaku. Dan dari semua
perubahan yang dilakukan sangat diharapkan siswa akan mendapatkan hasil berupa
knowladge, skill dan experience.
Apakah
sertifikasi guru merupakan salah satu penyebab menurunnya kualitas guru dalam
mengajar?