Artikel yang luar biasa dan
membuat saya merasa sangat heran sekaligus kagum dengan isi yang disajikan. Dalam
artikel di atas disebutkan bahwa sangat mungkin sekali bagi siswa untuk turut
menentukan kurikulum. Hal tersebut sudah dibuktikan dengan artikel di atas. Setelah
membaca artikl di atas saya sekaligus berpikir mengapa Indonesia tidak mampu
menerapkan hal yang sama dengan apa yang negara luar terapkan. Padahal, sebuah
kurikulum adalah sebuah bahan acuan bagi siswa untuk melakukan apa yang harus
mereka pahami segaligus apa yang mereka butuhkan. Namun, jika kurikulum hanya
ditentukan oleh pusat saja maka akan mengakibatkan kekeliruan pemahaman. Justru
apa yang siswa butuhkan tidak diberikan dalam pemblajaran, hal tersebut karena
pembelajaran hanya mengacu pada sebuah kurikulum yang kenyataannya merupakan
keinginan dari pusat atau gurunya. Di indonesia hal seperti itu belum teratasi
karena di sini mereka belum menyadari bahwa pembelajaran matematika itu tidak
hanya berlaku pada waktu yang sebentar, tapi
memerlukan waktu yang lama dan berlanjut. Dan setiap tahunnya guru akan
menjumpai siswa yang berbeda dengan kebutuhan yang berbeda pula. Setiap siswa
tersebut juga mempunyai kemmpuan yang berbeda-beda sehingga sangatlah mungkin
jika hasil yang mereka dapatkan akan brbeda pula.
Warga Indonesia khususnya para
pendidik beserta unsur-unsurnya harus membeca artikel ini dan mereka harus
mampu dan menyadari bahwa kita sebagai pendidik merupakan seseorang yang akan
melayani siswa dengan apa yang mereka butuhkan. Bukan sebagai pemberi apa yang
para pendidik miliki agar siswa memahaminya. Siswa bukan sebagai obyek dari
pembelajaran, namun siswa merupakan subyek pembelajaran yang membutuhkan
bimbingan dari para pendidik. Mulai sekarang, semoga para siswa mulai
dilibatkan dalam menentukan kurikulum sebagai bahan acuan pembelajaran yang
harus mereka kuasai.
Terima Kasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar