Setelah
membaca dan memahami artikel tersebut, saya dapat mengetahui apa yang
sebenarnya diinginkan oleh siswa dari
seorang guru. Siswa sangat menginginkan sebuah kemerdekaan dalam pembelajaran
matematika. Sebuah kemerdekaan bagi diri mereka untuk mendapatkan apa yang
mereka butuhkan, bukan apa yang guru butuhkan. Dari semua permintaan yang siswa
inginkan, sudah seharusnya bagi seorang guru untuk mengaktualisasikannnya. Untuk
mewujudkan semua permintaan tersebut sangat diperlukan sebuah perubahan yang
mendasar, baik dari metode pembelajaran itu sendiri, pemahaman, pengetahuan
maupun atittude dari seorang guru. Seperti yang dikemukakan oleh George Bernard Shaw, “Mustahil akan ada
kemajuan tanpa perubahan. Orang yang tak dapat mengubah pikirannya tak akan
bisa mengubah apa-apa”. Seperti halnya guru, seorang guru tidak mungkin dapat
mewujudkan permintaan-permintaan siswa jika seorang guru tidak mampu mengubah
cara pikirnya dan hanya terfokus dengan apa yang dia harapkan.
Metode
ceramah dalam pembelajaran merupakan sebuah hal yang sangat biasa. Sudah
saatnya itu semua diubah, sekarang ini siswa perlu metode pembelajaran yang
inovatif. Metode pembelajaran yang inovatif merupakan sebuah metode di mana di
dalam sebuah pembelajaran guru berperan sebagai facilitator bagi siswa bukan
sebagai pemberi, agar mereka dapat berperan aktif; kreatif dan inovatif.
Sehingga mereka mempunyai kesempatan untuk mengeluarkan dan mengembangkan
kemampuan yang mereka miliki. Mereka tidak hanya terpusat pada apa yang guru
miliki. Cara-cara yang tradisional bukan hanya akan membuat siswa pasif, tapi
akan membuat siswa itu “Mati”. Mati di sini bukan dalam artian meninggal, tapi
mati dalam artian mati dari teknologi, mati dari experience, mati dari segala
kemajuan dunia. Sudah menjadi tuntutan bagi seorng guru bahwa guru harus
tanggap terhadap kemajuan teknologi yang ada. Sehingga siswa tidak hanya dapat
belajar saat bertatap muka dengan seorang guru atau hanya menerima pengetahuan
dari sumer pelajaran yang guru sajikan di kelas. Karena sesungguhnya setiap
dari mereka (siswa) pasti sudah memiliki pengetahuan-pngetahuan sebelumnya.
Atau bahkan seorang guru harus perlu belajar dari seorang siswa. “Orangtua yang
baik mengajari anak-anaknya, orangtua bijak juga belajar dari mereka, menurut
Richard C. Miller. Jadi, guru yang bijak adalah guru yang mau belajar dari
siswanya.
Mereka
juga sangat menginginkan seorang guru yang adil, bukan guru yang hanya terpusat
pada siswa yang pandai saja atau bodoh saja. Atau bahkan hanya memperhatikan
siswa yang duduk di depan, sedangkan yang duduk di belakang hanya diam baik
dalam keadaan paham maupun dalam ketidaktahuan. Semua itu sangat penting
diperhatikan oleh seorang guru. Karena sebuah kelas tidak hanya terdiri dari
siswa yang pandai saja, tapi pasti ada beberapa dari mereka yang kurang pandai.
Seharusnya guru mengerti dan memahami bahwa mereka itu beraneka ragam. Jadi,
apakah mereka yang perlu menyesuaikan diri dengan metode yang guru terapkan? Bukankah
sebagai guru harus dapat menerapkan metode yang dapat diterima oleh semua
karakter dari siswa?
Dalam
sistem pembelajaran, guru yang berperan sebagai fasilitaror. Guru tidak berhak
menjadikan siswa sebagai obyek pembelajaran. Guru harus mampu menciptakan
suasana belajar yang menyenangkan. Meskipun sebenarnya rasa senang untuk
belajar matematika itu berasal dari diri siswa itu sendiri, seperti yang
dikemukakan oleh Edgar Watson Howe bahwa ”Tak ada orang bisa membantu Anda
mempertahankan pekerjaan Anda yang baik selain Anda sendiri”. Dan sangat diharapkan dari pembelajaran yang
inovatif, siswa mendapatkan hasil yang meliputi knowladge, skill dan
experience.
Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar